Kabaena,Rakyatnews.id — Peristiwa longsor yang terjadi di wilayah Olondoro, Desa Rahadopi, Kecamatan Kabaena, Kabupaten Bombana, memicu kekhawatiran masyarakat setempat. Menanggapi hal tersebut, PT Almhariq memberikan klarifikasi dengan menegaskan bahwa longsor dipicu oleh tingginya curah hujan dalam beberapa waktu terakhir, bukan akibat aktivitas pertambangan.
Kepala Teknik Tambang (KTT) PT Almhariq, Yazid, menjelaskan bahwa intensitas hujan yang tinggi menyebabkan tanah menjadi jenuh air dan kehilangan daya ikat, sehingga rawan terjadi pergerakan tanah, terutama di wilayah lereng.
“Tingginya curah hujan membuat air meresap ke dalam tanah dan melemahkan struktur tanah. Ini yang meningkatkan potensi longsor, khususnya di daerah dengan kemiringan,” ujarnya, Senin (6/4/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menambahkan, kejadian serupa juga pernah terjadi pada Juni 2025 di lokasi yang sama, bahkan saat perusahaan tidak beroperasi. Longsor tersebut berada di sisi badan jalan, bukan di area pit tambang.
Meski demikian, kekhawatiran warga terkait dampak terhadap sumber air bersih turut menjadi perhatian. Yazid memastikan bahwa mata air masyarakat tidak terdampak langsung, mengingat jaraknya sekitar 500 meter dari lokasi longsor.
“Yang terdampak hanya pipa milik penyedia air bersih yang dikelola yayasan, bukan sumber mata airnya. Air yang digunakan warga masih dalam kondisi jernih,” jelasnya.
Untuk merespons cepat kondisi di lapangan, perusahaan mengaku telah menurunkan tim dan alat berat guna melakukan penanganan, sekaligus berkoordinasi dengan Pemerintah Desa Rahadopi agar proses berjalan lancar dan tidak mengganggu kebutuhan masyarakat.

Namun dalam proses penanganan, pihak perusahaan menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya terkait posisi pipa yang dalam dokumentasi terlihat berada di atas permukaan tanah, berbeda dari kondisi sebelumnya.
“Kami berharap semua pihak bisa melihat situasi ini secara jernih. Jangan sampai ada informasi yang justru memperkeruh keadaan di tengah masyarakat,” kata Yazid.
Iebih lanjut yazi sapaan akrab nya menjelaskan bahwa pada saat kejadian perusahan segera melakukan tindakan cepat namun kondisi alam yang tidak bersahabat sehingga alat berat milik perusahaan sempat dihentikan oleh sejumlah oknum tanpa alasan jelas, sehingga sempat menghambat proses penanganan di lapangan.
Sementara itu, berdasarkan hasil peninjauan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bombana pada 27 Maret 2026, kondisi sejumlah sumber air, termasuk mata air Lare’ete, dilaporkan tetap jernih dan tidak ditemukan endapan lumpur akibat longsor.

Sumber air lain yang dimanfaatkan warga di beberapa wilayah seperti Teomokole, Rahampuu, Sikeli, Baliara, Baliara Selatan, hingga Desa Langkema juga dilaporkan dalam kondisi aman.
Di tengah situasi ini, masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem, sekaligus tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi.
penulis : Fendi
Editor : Redaksi Rakyatnews.id















