BOMBANA, Rakyatnews.id– Minggu pagi yang mestinya menjadi awal perjalanan bagi puluhan warga Bombana menuju Muna Barat, justru berubah menjadi kekecewaan. Mereka terlantar di Pelabuhan Kasipute, Kecamatan Rumbia, tanpa kejelasan keberangkatan setelah KMP Oputa Yi Koo tiba-tiba mengubah rute pelayaran.
Sejak pukul 09.00 Wita, para penumpang telah bersiap dan membawa barang untuk menyeberang ke Pelabuhan Tondasi, Kabupaten Muna Barat. Namun tanpa pengumuman resmi, kapal justru bertolak menuju Pelabuhan Tanjung Pising, Kecamatan Kabaena.
Rahmat , salah satu calon penumpang yang terdampak, tak mampu menyembunyikan kekecewaannya. “Kami sudah beli tiket dan menunggu sejak pagi. Tapi kapal malah ke Pising. Tidak ada satu pun dari pihak kapal memberi tahu. Kami merasa ditelantarkan,”ujarnya .
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya tindakan sepihak yang di lakukan operator kapal, PT Dharma Dwipa Utama, dinilai lalai dalam memberikan informasi kepada masyarakat. Beberapa penumpang bahkan sempat mencari ke kantor operator, namun tidak mendapatkan keterangan apapun.
Menanggapi keluhan penumpang tersebut yang telah di jadwalkan yakni rute kasipute – Tondasi Kepala Pelabuhan Rumbia, Fadli, menjelaskan bahwa perubahan rute dilakukan karena pada hari sebelumnya kapal tidak dapat mengangkut penumpang ke Pising akibat kerusakan mesin
. “Baru pagi ini kapal bisa beroperasi, jadi diarahkan ke Pising lebih dulu untuk layani penumpang yang tertunda,” jelas Fadli saat dikonfirmasi
Namun, Fadli juga mengakui bahwa keputusan pengalihan rute tersebut sepenuhnya berada di bawah wewenang pihak operator kapal. “Kami di pelabuhan hanya mengatur teknis keberangkatan. Soal kebijakan rute, silakan langsung ke PT Dharma,” tambahnya.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak PT Dharma Dwipa Utama belum memberikan pernyataan resmi. Awak media telah mendatangi kantor perusahaan di Bombana dan mencoba menghubungi nomor layanan, namun belum ada tanggapan.
Kejadian ini menjadi sorotan publik, terutama karena wilayah-wilayah seperti Bombana dan Muna Barat sangat bergantung pada transportasi laut. Bagi masyarakat, kapal penyeberangan bukan sekadar moda transportasi, tapi urat nadi ekonomi dan sosial.
Sejumlah warga mendesak pemerintah daerah dan otoritas terkait agar segera mengevaluasi kinerja operator kapal dan memperkuat regulasi layanan transportasi laut. Mereka berharap tidak ada lagi kejadian penelantaran seperti ini, yang merugikan masyarakat kecil sebagai pengguna utama layanan publik.
Penulis : egy
Editor : Redaksi Rakyatnews.id















